Wednesday, 4 January 2012

SOUL 2

Uraian kali ini melanjutkan tulisan sebelumnya tentang memahami jiwa seseorang. Berdasarkan pengamatan saya tentang usaha-usaha orang dalam memahami kejiwaan orang lain, ada beberapa tips yang mungkin bisa saya sharingkan di sini:
  1. Diam, dengar dan amati
    Ketika kita ingin lebih memahami seseorang yang baru atau seseorang yang telah kita kenal namun ingin lebih menggali jiwa mereka lebih dalam, maka kadang kita perlu mengambil langkah diam, dengar dan amati. Kita akan dapat mengorek lebih dalam ketika kita sebagai pendengar yang baik. Jadi pendengar yang baik, bukan berarti kita benar-benar diam mendengarkan lawan bicara bercerita, tapi kadang kita perlu menanggapi apa yang menjadi bahan pembicaraan lawan bicara agar pembicaraan lebih hidup, agar dia lebih merasa diperhatikan dan untuk memancing variasi cerita-cerita, mimik muka dan gesture dari lawan bicara.

    Saat kita mencoba mengamati variasi cara seseorang bercerita, mimik muka saat bercerita dan gesture dalam bercerita, maka sedikit demi sedikit otak kita akan menganalisis, ada apa di balik cerita-cerita, mimik muka dan gesture-nya. Saat itulah kita sudah mulai mencoba menganalisa apa gerangan makna di balik hal-hal tersebut. Memang analisa tak bisa langsung "ada" yang menyerempet dari kebenaran. Tapi proses analisa tersebut dapat menjadi awal kita menuju titik tolak berikutnya dalam memahami orang. Semakin sering dicoba, saya yakin semakin lama semakin banyak hal-hal yang bisa kita analisa dari seseorang, meskipun tak akan pernah benar-benar sampai "benar" 100%. Biasanya metode ini digunakan oleh tipikal orang yang pendiam, meskipun kadang digunakan oleh orang-orang yang periang namun seorang yang analistis dalam kehidupan sehari-hari.

  2. Sok Tahu
    Metode ini biasanya digunakan oleh orang yang humoris dan lebih gaul dari tipe pemakai metode di atas. Biasanya orang seperti bukan tipikal pendengar yang baik. Dia akan mencoba memahami orang lain dengan jalan banyak bertanya dan menebak-menebak apa yang terjadi, apa yang dirasakan dan apa yang dilakukan jika sesuatu terjadi. Jadi mungkin terkesan sok tahu, namun sebenarnya dari ke-soktahu-an dia, bisa berujung dengan berceritanya si lawan bicara tentang sesungguhnya yang terjadi, apa yang dia rasakan dan langkah apa yang dia tempuh untuk mengatasai apa yang dia alami.

    Metode sok tahu ini sebenarnya hanya memancing lawan bicara agar mau bercerita lebih banyak sehingga kita bisa lebih dapat banyak informasi dan menganalisis kepribadiannya berdasar gayanya dalam bercerita.

  3. Spy
    Metode ini biasanya dapat mengorek hampir separuh dari kepribadian seseorang sebenarnya. Mulai dari di mana dia tinggal, anaknya siapa, teman mainnya siapa, sehari-hari kemana saja dia pergi, sampai ke hal-hal yang lebih bersifat pribadi. Namun hal ini kadang dapat membuat tidak nyaman bagi orang yang dikenai metode ini. Selain itu, metode ini terlalu banyak menyita waktu, tenaga dan uang yang dikorbankan.

  4. Gabungan/Variasi dari ketiga metode di atas
    Ada juga orang yang mampu menggabungkan ketiga cara di atas menjadi suatu yang lebih rigid dan valid.

SOUL

Berdasarkan pengalaman saya dalam memahami jiwa seseorang, kita perlu memperhatikan beberapa hal berikut:
  1. Usia
    Perkembangan ke-"jiwa"-an dalam diri seseorang dapat berubah seiring dengan pertambahan usia. Namun satu pribadi dengan pribadi yang lain, perkembangan "jiwa"-nya tidaklah selalu bersamaan meskipun mereka di usia yang sebaya. Perbedaan ini terjadi karena faktor eksternal dirinya, semisal: keluarga, lingkungan tempat dia tinggal, riwayat hidupnya dan tingkat pendidikannya.

  2. Keluarga
    Keluarga umumnya merupakan tempat "awal" terbentuknya karakter ke-"jiwa"-an seseorang. Arti "keluarga" sendiri dalam hal ini bisa berarti keturunan secara genetis ataupun orang yang "merawat" dan membesarkannya. Di jaman seperti sekarang ini, tak sedikit kisah seorang anak yang dirawat dan dibesarkan oleh orang lain, bukan orangtua kandungnya sendiri. Jadi kadang kita menyaksikan seorang anak yang mungkin punya kejiwaan yang berbeda dengan orang tua kandungnya (bisa lebih baik atau lebih buruk).

    Meskipun secara genetis, sifat seseorang bisa menurun dari orang tua kandungnya, namun pendidikan keluarga di usia dini (kadang di sebut "Gold Age") adalah pendidikan kejiwaan yang dia rekam di dalam otaknya dengan begitu mendalam. Itulah sebabnya, mengapa seorang orang tua(baik itu orang tua kandung, orang tua angkat maupun orang tua asuh), hendaknya berperilaku, bersikap, bertutur kata dan berpola pikir yang terbaik yang bisa dia lakukan saat anak ada pada "Gold Age" tadi.

  3. Lingkungan Tempat Tinggal
    Lingkungan tempat tinggal seseorang inilah yang memberikan kontribusi terbesar dalam perkembangan "kejiwaan" seseorang. Ke arah mana perkembangan kejiwaan seseorang bergantung pada di mana lingkungan tempat dia tinggal dan berapa banyak variasi lingkungan tempat dia tinggal. Lingkungan di sini, bisa berarti lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat, lingkungan bermain, lingkungan bisnis, dan lingkungan-lingkungan yang sejenis lainnya.

    Lingkungan tempat tinggal, awalnya akan membentuk suatu kebiasaan tertentu pada kejiwaan diri seseorang yang lama-lama akan menjadikan suatu kebiasaan itu menjadi karakter dari orang tersebut

  4. Riwayat Hidup
    Riwayat hidup yang dimaksud di sini adalah kejadian-kejadian yang membawa perubahan kejiwaan seseorang pada usia tertentu atau setelah peristiwa tertentu. Baik itu kejadian yang menyedihkan atau yang membahagiakan.

    Kadang-kadang kepribadian seseorang bisa melenceng (baik itu positif atau negatif) dari kepribadian keluarga ataupun karakter dari lingkungan tempat dia tinggal. Hal ini dapat terjadi karena seseorang mengalami peristiwa-peristiwa tertentu yang membawa perubahan bagi kejiwaannya. Misal: Patah Hati, Putus Cinta, Pernikahan, Kematian, Kelahiran, Kesuksesan, Peperangan, Bencana Alam, dan masih banyak peristiwa-peristiwa yang lainnya.

  5. Tingkat Pendidikan
    Tingkat pendidikan mempengaruhi karakter kejiwaan seseorang, karena adanya perkembangan pola pikirnya, yang dapat mengubah pola hidup dan kebiasaan yang dia bawa dari keluarga maupun lingkungannya.

    Orang yang memiliki karakter kejiwaan dasar yang sama, namun memiliki kesenjangan di bidang pendidikan, maka tampilan luaran karakter kejiwaannya akan berbeda terhadap penerapan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam menghadapi masalah-masalah hidupnya.

Monday, 2 January 2012

MUNCUL LAGI


Dah lama gak nulis di Blog.... email juga dah lupa passwordnya.... pengen mulai nulis-nulis lagi.... tahun baru semoga ada semangat baru yang lebih besar lagi.... lebih luar biasa lagi....

INI adalah awal aku nulis lagi.... foto di atas yang membuatku semangat untuk nulis lagi...