Tak dapat ku lukiskan wajahmu di langit jingga
Tak dapat ku dendangkan symphony indahmu di ujung batas cakrawala
Karena aku hanya bisa mengenangmu selalu di hatiku
Karena aku hanya bisa bersenandung lagu rindu untukmu
Mungkin tak terlihat olehmu tetesan embun pagi
Mungkin tak terbaca olehmu kalimat Illahi
Tapi rasakan saja sejuknya
Tapi hayati saja maknanya
Friday, 7 December 2012
Tentang yang Ku Rasakan
Entah apa yang ada dalam benaknya. Yang ku tahu dia selalu menyembunyikan sesuatu yang berhubungan dengan orang-orang (Laki-laki) yang mungkin punya "kedekatan khusus" dengan dirinya.
Hanya ALLAH Yang Maha Tahu segala apa yang dia sembunyikan sebenarnya. Aku tak pernah tahu pasti siapa yang sebenarnya dia cintai jauh di dalam hatinya. Mungkin saat ini yang terlihat dekat (secara fisik) dengannya adalah aku. Tapi aku gak tahu kenapa dia mau dekat denganku. Apakah dia hanya kasihan terhadapku? Apakah hanya karena gak enak atau gak tega? Ataukah dia memang mencintaiku seperti aku mencintai dirinya?
Berulang kali ku mantapkan hati bahwa dia ada rasa ke aku. Tapi kadang itu sirna ketika aku tahu dia sering sms an dengan seseorang lelaki. Atau mungkin bukan hanya lelaki itu saja. Yang kadang kulihat wajahnya senyum berseri dan tersipu malu ketika menerima sms dari orang tersebut (entah siapa). Memang aku cemburu terhadap sikap-sikap dia ke orang-orang itu. Yah mungkin karena aku adalah orang yang tak pandai mengambil hati seorang wanita. Aku tak pandai berbicara, tak pandai membuat dia tersenyum berseri atau bahkan tersipu malu. Aku mungkin terlalu apa adanya. Merayu pun aku tidak bisa, yang ada kemungkinan dia pasti malah gak suka.
Aku tak pernah tahu mengapa semua yang aku lakukan ke dia, tak membuatnya membuka pintu hatinya untukku. Apakah mungkin karena aku terlalu tua baginya? (walaupun selisihnya sebenarnya tak sampai seperti pasangan artis yang tenar itu). Ataukah sebenarnya dia telah mencintai seseorang di sana yang entah aku tahu orang tersebut atau tidak. Atau karena kehidupanku yang mungkin identik dengan kaum proletar, yang tak punya apa-apa. Mungkin di matanya aku benar-benar pengangguran sejati.
Yah mungkin saat ini aku terlihat pengangguran meski aku telah berusaha untuk tiap malam mengupdate ilmu komputerku, agar ketika aku mendapat orderan di bidang komputer aku bisa mengatasi masalah-masalah dari pelanggan.Selain itu aku juga sering mengupdate kemampuan musikku secara online karena aku ngelesin gitar anak kelas satu SMP. Meski basic ku bukan di bidang komputer atau music, aku berusaha keras untuk bisa mendapatkan uang dari kemampuan dua hal itu. Walaupun sebenarnya tak ada satupun modal barang yang aku miliki, laptop atau PC belum punya, gitarpun aku belum punya. Jadi semua yang kupelajari murni lewat penjelajahan secara pribadi dan mungkin butuh waktu banyak.Dan media penghasilanku dari itu semua, masih berupa barang pinjaman dari orang.
Mungkin terlalu lebar perbedaan tingkat ekonomi di antara aku dengannya. Secara sosial kultural, mungkin akan sangat susah baginya mengerti dan memahami kesulitan-kesulitan yang aku alami. Mungkin mudah bagi seseorang yang sudah beruang untuk mengatakan segala sesuatu, dengan cepat dan praktis. Sedangkan mungkin bagi orang sepertiku, banyak sekali kendala yang harus dihadapi. Pengen kerja gak diterima2, lalu pengen buka usaha sendiri tapi gak punya tempat dan modal, kemudian pengen pinjam uang ke bank untuk modal akan tetapi sama sekali tak punya jaminan(karena sertifikat tanah pun tak punya), pengen pinjam modal ke teman (banyak yang ragu2, apa bisa?, karena tidak adanya jaminan). Mungkin jika ini terjadi pada masa dulu tidak terlalu berat karena persaingan masih dengan ratio besar (ratio lapangan kerja dibanding jumlah usia produktif). Sedangkan saat ini jumlah lapangan kerja terbatas dengan jumlah orang yang super banyak.Telah ku masukkan lamaran ke mana-mana dg ijazah SMAku, tapi belum ada satupun yang masuk secara mulus. ada saja yang meminta uang agar bisa diterima kerja di suatu instansi.
Di sisi lain, kadang dia begitu sangat perhatian, meski tak terungkapkan lewat kata-kata, kadang-kadang bisa membuatku merasa begitu sangat nyaman di dekatnya, kadang dia bisa membuatku tertawa terbahak-bahak karena dia memang orang yang lucu. Kadang aku di buat nya terharu ketika ku melihat dia perhatian dengan orang-orang gak mampu.Dia mampu menumbuhkan semangatku menjadi berlipat-lipat, Hingga sudah 6 bulan an aku bisa terlepas dari obat jantung yang sering aku konsumsi. Aku tak tahu arti aku apa bagi kehidupannya, entah berarti entah tidak, tapi yang jelas dia wanita yang sangat spesial bagiku, sangat istimewa.
Hanya ALLAH Yang Maha Tahu segala apa yang dia sembunyikan sebenarnya. Aku tak pernah tahu pasti siapa yang sebenarnya dia cintai jauh di dalam hatinya. Mungkin saat ini yang terlihat dekat (secara fisik) dengannya adalah aku. Tapi aku gak tahu kenapa dia mau dekat denganku. Apakah dia hanya kasihan terhadapku? Apakah hanya karena gak enak atau gak tega? Ataukah dia memang mencintaiku seperti aku mencintai dirinya?
Berulang kali ku mantapkan hati bahwa dia ada rasa ke aku. Tapi kadang itu sirna ketika aku tahu dia sering sms an dengan seseorang lelaki. Atau mungkin bukan hanya lelaki itu saja. Yang kadang kulihat wajahnya senyum berseri dan tersipu malu ketika menerima sms dari orang tersebut (entah siapa). Memang aku cemburu terhadap sikap-sikap dia ke orang-orang itu. Yah mungkin karena aku adalah orang yang tak pandai mengambil hati seorang wanita. Aku tak pandai berbicara, tak pandai membuat dia tersenyum berseri atau bahkan tersipu malu. Aku mungkin terlalu apa adanya. Merayu pun aku tidak bisa, yang ada kemungkinan dia pasti malah gak suka.
Aku tak pernah tahu mengapa semua yang aku lakukan ke dia, tak membuatnya membuka pintu hatinya untukku. Apakah mungkin karena aku terlalu tua baginya? (walaupun selisihnya sebenarnya tak sampai seperti pasangan artis yang tenar itu). Ataukah sebenarnya dia telah mencintai seseorang di sana yang entah aku tahu orang tersebut atau tidak. Atau karena kehidupanku yang mungkin identik dengan kaum proletar, yang tak punya apa-apa. Mungkin di matanya aku benar-benar pengangguran sejati.
Yah mungkin saat ini aku terlihat pengangguran meski aku telah berusaha untuk tiap malam mengupdate ilmu komputerku, agar ketika aku mendapat orderan di bidang komputer aku bisa mengatasi masalah-masalah dari pelanggan.Selain itu aku juga sering mengupdate kemampuan musikku secara online karena aku ngelesin gitar anak kelas satu SMP. Meski basic ku bukan di bidang komputer atau music, aku berusaha keras untuk bisa mendapatkan uang dari kemampuan dua hal itu. Walaupun sebenarnya tak ada satupun modal barang yang aku miliki, laptop atau PC belum punya, gitarpun aku belum punya. Jadi semua yang kupelajari murni lewat penjelajahan secara pribadi dan mungkin butuh waktu banyak.Dan media penghasilanku dari itu semua, masih berupa barang pinjaman dari orang.
Mungkin terlalu lebar perbedaan tingkat ekonomi di antara aku dengannya. Secara sosial kultural, mungkin akan sangat susah baginya mengerti dan memahami kesulitan-kesulitan yang aku alami. Mungkin mudah bagi seseorang yang sudah beruang untuk mengatakan segala sesuatu, dengan cepat dan praktis. Sedangkan mungkin bagi orang sepertiku, banyak sekali kendala yang harus dihadapi. Pengen kerja gak diterima2, lalu pengen buka usaha sendiri tapi gak punya tempat dan modal, kemudian pengen pinjam uang ke bank untuk modal akan tetapi sama sekali tak punya jaminan(karena sertifikat tanah pun tak punya), pengen pinjam modal ke teman (banyak yang ragu2, apa bisa?, karena tidak adanya jaminan). Mungkin jika ini terjadi pada masa dulu tidak terlalu berat karena persaingan masih dengan ratio besar (ratio lapangan kerja dibanding jumlah usia produktif). Sedangkan saat ini jumlah lapangan kerja terbatas dengan jumlah orang yang super banyak.Telah ku masukkan lamaran ke mana-mana dg ijazah SMAku, tapi belum ada satupun yang masuk secara mulus. ada saja yang meminta uang agar bisa diterima kerja di suatu instansi.
Di sisi lain, kadang dia begitu sangat perhatian, meski tak terungkapkan lewat kata-kata, kadang-kadang bisa membuatku merasa begitu sangat nyaman di dekatnya, kadang dia bisa membuatku tertawa terbahak-bahak karena dia memang orang yang lucu. Kadang aku di buat nya terharu ketika ku melihat dia perhatian dengan orang-orang gak mampu.Dia mampu menumbuhkan semangatku menjadi berlipat-lipat, Hingga sudah 6 bulan an aku bisa terlepas dari obat jantung yang sering aku konsumsi. Aku tak tahu arti aku apa bagi kehidupannya, entah berarti entah tidak, tapi yang jelas dia wanita yang sangat spesial bagiku, sangat istimewa.
Sunday, 18 November 2012
OPINI 1
Semua momen memang sudah disiapkan Tuhan untuk "mendesain" seorang individu" sedemikian rupa sehingga menjadi sosok yang orang-orang lihat sekarang ini.
Tersebutlah kisah tentang seorang wanita yang lahir pada tanggal 2 Mei. Tanggal yang sama dengan tanggal kelahiran Ki Hajar Dewantara (seorang tokoh pendidikan di jaman kolonial) dan juga tanggal yang bertepatan dengan diperingatinya Hari Pendidikan Nasional. Mungkin ini lah yang dinamakan skenario Tuhan, wanita ini mempunyai etos belajar yang tinggi, sesuai dengan tingginya semangat pendidikan yang dibawa Ki Hajar Dewantara dan Hari Pendidikan Nasional yang diperingati oleh seluruh bangsa Indonesia. s
Setiap hari yang ada di "kepala"nya yang mungil adalah tugas-tugas belajar. Kedua hal itu dia kerjakan dengan sangat ketat dan disiplin sesuai dengan kemampuannya. Beberapa temannya mengatakan bahwa dia sangat disiplin soal "Belajar"nya. Entah beberapa kali kejadian yang mengharuskan dia memilih satu di antara "bersosialisasi" di organisasi tertentu atau "belajar", sebagian besar yang dia pilih "belajar". Mungkin sebagian orang ada yang menganggap dia egois karena lebih mementingkan urusan pribadi di banding urusan yang menyangkut hajat hidup orang yang lebih banyak.
Namun sebenarnya jika kita melihat seorang individu pasti tak bisa lepas dari latar belakang; entah latar belakang pengalaman rohani nya, latar belakang "pendidikan" keluarga, latar belakang teman-teman sebelumnya, bahkan hingga latar belakang peristiwa-peristiwa yang datang dihidupnya.Oleh sebab itu, jika kita "melihat" seseorang yang lebih mementingkan "belajar"nya dari pada "sosialisasi" nya di suatu organisasi, dilihat dari sudut pandang bakti terhadap orang tua, maka kita tidak akan mudah beranggapan bahwa dia adalah orang egois.
Logika yang bisa diambil adalah seperti ini: wanita tadi adalah mahluk sosial yang pastinya dia akan senang sekali bersosialisasi (selama tidak pada waktu yang sama dengan prioritas pribadinya). Ketika dia memilih "belajar"nya maka dia tidak bisa dikatakan egois selama yang diperjuangkan adalah untuk orang tua nya tercinta.Nah di sini lah letak bahwa dia tidak egois (tidak menuruti keinginan sendiri yang alami yaitu berorganisasi/ bersosialisasi). Yang dia lakukan adalah berkomitmen terhadap tanggung jawab pada orang tuanya, keluarganya, atau dengan bahasa lain adalah lebih berkomitmen kepada organisasi terkecil dirinya yaitu "keluarga".
Tersebutlah kisah tentang seorang wanita yang lahir pada tanggal 2 Mei. Tanggal yang sama dengan tanggal kelahiran Ki Hajar Dewantara (seorang tokoh pendidikan di jaman kolonial) dan juga tanggal yang bertepatan dengan diperingatinya Hari Pendidikan Nasional. Mungkin ini lah yang dinamakan skenario Tuhan, wanita ini mempunyai etos belajar yang tinggi, sesuai dengan tingginya semangat pendidikan yang dibawa Ki Hajar Dewantara dan Hari Pendidikan Nasional yang diperingati oleh seluruh bangsa Indonesia. s
Setiap hari yang ada di "kepala"nya yang mungil adalah tugas-tugas belajar. Kedua hal itu dia kerjakan dengan sangat ketat dan disiplin sesuai dengan kemampuannya. Beberapa temannya mengatakan bahwa dia sangat disiplin soal "Belajar"nya. Entah beberapa kali kejadian yang mengharuskan dia memilih satu di antara "bersosialisasi" di organisasi tertentu atau "belajar", sebagian besar yang dia pilih "belajar". Mungkin sebagian orang ada yang menganggap dia egois karena lebih mementingkan urusan pribadi di banding urusan yang menyangkut hajat hidup orang yang lebih banyak.
Namun sebenarnya jika kita melihat seorang individu pasti tak bisa lepas dari latar belakang; entah latar belakang pengalaman rohani nya, latar belakang "pendidikan" keluarga, latar belakang teman-teman sebelumnya, bahkan hingga latar belakang peristiwa-peristiwa yang datang dihidupnya.Oleh sebab itu, jika kita "melihat" seseorang yang lebih mementingkan "belajar"nya dari pada "sosialisasi" nya di suatu organisasi, dilihat dari sudut pandang bakti terhadap orang tua, maka kita tidak akan mudah beranggapan bahwa dia adalah orang egois.
Logika yang bisa diambil adalah seperti ini: wanita tadi adalah mahluk sosial yang pastinya dia akan senang sekali bersosialisasi (selama tidak pada waktu yang sama dengan prioritas pribadinya). Ketika dia memilih "belajar"nya maka dia tidak bisa dikatakan egois selama yang diperjuangkan adalah untuk orang tua nya tercinta.Nah di sini lah letak bahwa dia tidak egois (tidak menuruti keinginan sendiri yang alami yaitu berorganisasi/ bersosialisasi). Yang dia lakukan adalah berkomitmen terhadap tanggung jawab pada orang tuanya, keluarganya, atau dengan bahasa lain adalah lebih berkomitmen kepada organisasi terkecil dirinya yaitu "keluarga".
Monday, 11 June 2012
SOMEDAY WILL KNOW
Waktu mengisyaratkan indahnya batas cakrawala
Sejarah pernah mencatat pertemuan siang malam
Akan sampai di keindahan yang di bawa sang kala
Merah semerbak di palung-palung jiwa
Setiap tetesan embun menyejukkanSejarah pernah mencatat pertemuan siang malam
Akan sampai di keindahan yang di bawa sang kala
Merah semerbak di palung-palung jiwa
Nyanyian rintihan jiwa yang tertahan di leher lorong swara
Celotehan hasta menarikan bukti terSembunyi
Doa pemintal jiwa-jiwa rapuh
Thursday, 2 February 2012
TEGAR
Ada-ku jauh dari dinginnya bumi
Arti-ku tak kau pahami
Rasakan saja gunaku hari
Bayu bisikan jangkar-jangkar jiwa
bara tegarkan pilar-pilar asa
Menara hanyalah fatamorgana
terbanglah ke cakrawala
horizonmu tak kan terbawa terlena
berlarian menggapai damai senja
Arti-ku tak kau pahami
Rasakan saja gunaku hari
Bayu bisikan jangkar-jangkar jiwa
bara tegarkan pilar-pilar asa
Menara hanyalah fatamorgana
terbanglah ke cakrawala
horizonmu tak kan terbawa terlena
berlarian menggapai damai senja
Wednesday, 4 January 2012
SOUL 2
Uraian kali ini melanjutkan tulisan sebelumnya tentang memahami jiwa seseorang. Berdasarkan pengamatan saya tentang usaha-usaha orang dalam memahami kejiwaan orang lain, ada beberapa tips yang mungkin bisa saya sharingkan di sini:
- Diam, dengar dan amati
Ketika kita ingin lebih memahami seseorang yang baru atau seseorang yang telah kita kenal namun ingin lebih menggali jiwa mereka lebih dalam, maka kadang kita perlu mengambil langkah diam, dengar dan amati. Kita akan dapat mengorek lebih dalam ketika kita sebagai pendengar yang baik. Jadi pendengar yang baik, bukan berarti kita benar-benar diam mendengarkan lawan bicara bercerita, tapi kadang kita perlu menanggapi apa yang menjadi bahan pembicaraan lawan bicara agar pembicaraan lebih hidup, agar dia lebih merasa diperhatikan dan untuk memancing variasi cerita-cerita, mimik muka dan gesture dari lawan bicara.
Saat kita mencoba mengamati variasi cara seseorang bercerita, mimik muka saat bercerita dan gesture dalam bercerita, maka sedikit demi sedikit otak kita akan menganalisis, ada apa di balik cerita-cerita, mimik muka dan gesture-nya. Saat itulah kita sudah mulai mencoba menganalisa apa gerangan makna di balik hal-hal tersebut. Memang analisa tak bisa langsung "ada" yang menyerempet dari kebenaran. Tapi proses analisa tersebut dapat menjadi awal kita menuju titik tolak berikutnya dalam memahami orang. Semakin sering dicoba, saya yakin semakin lama semakin banyak hal-hal yang bisa kita analisa dari seseorang, meskipun tak akan pernah benar-benar sampai "benar" 100%. Biasanya metode ini digunakan oleh tipikal orang yang pendiam, meskipun kadang digunakan oleh orang-orang yang periang namun seorang yang analistis dalam kehidupan sehari-hari. - Sok Tahu
Metode ini biasanya digunakan oleh orang yang humoris dan lebih gaul dari tipe pemakai metode di atas. Biasanya orang seperti bukan tipikal pendengar yang baik. Dia akan mencoba memahami orang lain dengan jalan banyak bertanya dan menebak-menebak apa yang terjadi, apa yang dirasakan dan apa yang dilakukan jika sesuatu terjadi. Jadi mungkin terkesan sok tahu, namun sebenarnya dari ke-soktahu-an dia, bisa berujung dengan berceritanya si lawan bicara tentang sesungguhnya yang terjadi, apa yang dia rasakan dan langkah apa yang dia tempuh untuk mengatasai apa yang dia alami.
Metode sok tahu ini sebenarnya hanya memancing lawan bicara agar mau bercerita lebih banyak sehingga kita bisa lebih dapat banyak informasi dan menganalisis kepribadiannya berdasar gayanya dalam bercerita. - Spy
Metode ini biasanya dapat mengorek hampir separuh dari kepribadian seseorang sebenarnya. Mulai dari di mana dia tinggal, anaknya siapa, teman mainnya siapa, sehari-hari kemana saja dia pergi, sampai ke hal-hal yang lebih bersifat pribadi. Namun hal ini kadang dapat membuat tidak nyaman bagi orang yang dikenai metode ini. Selain itu, metode ini terlalu banyak menyita waktu, tenaga dan uang yang dikorbankan. - Gabungan/Variasi dari ketiga metode di atas
Ada juga orang yang mampu menggabungkan ketiga cara di atas menjadi suatu yang lebih rigid dan valid.
SOUL
Berdasarkan pengalaman saya dalam memahami jiwa seseorang, kita perlu memperhatikan beberapa hal berikut:
- Usia
Perkembangan ke-"jiwa"-an dalam diri seseorang dapat berubah seiring dengan pertambahan usia. Namun satu pribadi dengan pribadi yang lain, perkembangan "jiwa"-nya tidaklah selalu bersamaan meskipun mereka di usia yang sebaya. Perbedaan ini terjadi karena faktor eksternal dirinya, semisal: keluarga, lingkungan tempat dia tinggal, riwayat hidupnya dan tingkat pendidikannya. - Keluarga
Keluarga umumnya merupakan tempat "awal" terbentuknya karakter ke-"jiwa"-an seseorang. Arti "keluarga" sendiri dalam hal ini bisa berarti keturunan secara genetis ataupun orang yang "merawat" dan membesarkannya. Di jaman seperti sekarang ini, tak sedikit kisah seorang anak yang dirawat dan dibesarkan oleh orang lain, bukan orangtua kandungnya sendiri. Jadi kadang kita menyaksikan seorang anak yang mungkin punya kejiwaan yang berbeda dengan orang tua kandungnya (bisa lebih baik atau lebih buruk).
Meskipun secara genetis, sifat seseorang bisa menurun dari orang tua kandungnya, namun pendidikan keluarga di usia dini (kadang di sebut "Gold Age") adalah pendidikan kejiwaan yang dia rekam di dalam otaknya dengan begitu mendalam. Itulah sebabnya, mengapa seorang orang tua(baik itu orang tua kandung, orang tua angkat maupun orang tua asuh), hendaknya berperilaku, bersikap, bertutur kata dan berpola pikir yang terbaik yang bisa dia lakukan saat anak ada pada "Gold Age" tadi. - Lingkungan Tempat Tinggal
Lingkungan tempat tinggal seseorang inilah yang memberikan kontribusi terbesar dalam perkembangan "kejiwaan" seseorang. Ke arah mana perkembangan kejiwaan seseorang bergantung pada di mana lingkungan tempat dia tinggal dan berapa banyak variasi lingkungan tempat dia tinggal. Lingkungan di sini, bisa berarti lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan, lingkungan masyarakat, lingkungan bermain, lingkungan bisnis, dan lingkungan-lingkungan yang sejenis lainnya.
Lingkungan tempat tinggal, awalnya akan membentuk suatu kebiasaan tertentu pada kejiwaan diri seseorang yang lama-lama akan menjadikan suatu kebiasaan itu menjadi karakter dari orang tersebut - Riwayat Hidup
Riwayat hidup yang dimaksud di sini adalah kejadian-kejadian yang membawa perubahan kejiwaan seseorang pada usia tertentu atau setelah peristiwa tertentu. Baik itu kejadian yang menyedihkan atau yang membahagiakan.
Kadang-kadang kepribadian seseorang bisa melenceng (baik itu positif atau negatif) dari kepribadian keluarga ataupun karakter dari lingkungan tempat dia tinggal. Hal ini dapat terjadi karena seseorang mengalami peristiwa-peristiwa tertentu yang membawa perubahan bagi kejiwaannya. Misal: Patah Hati, Putus Cinta, Pernikahan, Kematian, Kelahiran, Kesuksesan, Peperangan, Bencana Alam, dan masih banyak peristiwa-peristiwa yang lainnya. - Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan mempengaruhi karakter kejiwaan seseorang, karena adanya perkembangan pola pikirnya, yang dapat mengubah pola hidup dan kebiasaan yang dia bawa dari keluarga maupun lingkungannya.
Orang yang memiliki karakter kejiwaan dasar yang sama, namun memiliki kesenjangan di bidang pendidikan, maka tampilan luaran karakter kejiwaannya akan berbeda terhadap penerapan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam menghadapi masalah-masalah hidupnya.
Monday, 2 January 2012
MUNCUL LAGI
Subscribe to:
Posts (Atom)