Dasar keparat ...... sudahkah puas dirimu ......
tertawa di atas penderitaan orang lain ...
senangkan ..... ??? senangkan .......? ha ... ha... ayo jawab .......
Ambil tuh smua kepuasanmu, ambil tuh semua ketakutan mu ....
Jangan katakan aku kelainan jika kalian tega menghancurkan kehidupan orang kelainan .......
Siapakah yang lebih kejam di antara kita ..............
memang orang kecil sangat susah untuk menang ...... tapi bukan berarti untuk diinjak-injak .....
SEMBUNYILAH DI ATAS KURSI EMPUK KALIAN
SEMBUNYILAH DIKOLONG KEBAHAGIAAN
SEMBUNYILAH DARI RASA TAKUT
KAMILAH YANG KUAT
KAMILAH YANG SANGGUP MENOPANG BEBAN
KAMILAH YANG MAMPU MENERIMA RASA SAKIT
Rasa sakit tidak cocok untuk orang penakut seperti kalian
Kalian berbungkus putih tapi tetap saja kalian punya jiwa MONSTER
Menghancurkan tanpa pernah merasa bersalah kemudian langsung bersarang di tempat lain
Membuat kerajaan baru .........
Monday, 23 February 2009
SALAH SANGKA
Aku kan tetap menunggu
hingga batas sang waktu tak lagi berputar
Sampai denyut nadi berhenti
ku tetap slalu menanti seisi hatiku
Bait inilah yang sering dinyanyikan oleh seorang laki-laki ketika waktu luang. Dengan berbekal suara pas-pasan namun dengan penjiwaan yang luar biasa. Ya........ memang luar biasa penjiwaannya karena itulah pengalaman batinnya.
Kemarin lelaki itu bertemu dengan seorang wanita di sebuah warung bakso. Wanita itu bertanya: "Mas Aris?". Lalu laki-laki menjawab: "Iya ......... Siapa ya? maaf saya lupa ......". Lalu laki-laki itu berusaha mngingat dimanakah mereka bertemu dan berkenalan, atau lewat siapa dia berkenalan. Tiba-tiba laki-laki itu teringat .... "Eee.... kamu anak Jurusan Manajemen ya?". Wanita itu menjawab: "iya .......". Sambil menikmati bakso di hadapannya yang sudah hampir habis wanita itu bertanya pada laki-laki yang jarak mejanya lumayan jauh, sehingga butuh suara lebih kencang lagi untuk bertanya di banding duduk berdekatan, dia bertanya: "Bagaimana kabar "wanita"mu Mas?". Laki-laki itu menjawab: "wah dia di luar kota". Wanita itu balik bertanya: "Sekarang dah "isi" belum?". Mendengar pertanyaan itu, sejenak laki-laki itu bingung. Begitu juga dengan Faiz, sahabat di dekatnya.
Sementara ada beberapa pasang mata mulai memperhatikan percakapan mereka. Laki-laki itu mencoba menjawab pertanyaan yng sebenarnya sangat susah dia jawab di hadapan orang banyak. "Mana aku tahu dia "isi" atau ga...." jawab laki-laki itu sambil tersenyum karena malu diperhatikan beberapa orang. Dengan nada sedikit kaget dan suaranya tambah mengeras wanita itu bertanya: "Lho ini mas Aris bukan to.....? Mas Aris kan?". Laki-laki itu dan sahabatnya Faiz tersenyum-senyum, lalu laki-laki itu menjawab: "iya benar ini aku Aris. Emang kenapa? beda po?". "sekarang Mas jadi Ndut", jawab wanita itu. Dengan rasa penasaran yang bertambah wanita itu bertanya dengan suara yang semakin mengeras: "lalu kemarin yang menikah sama "wanita" itu siapa? Eh .... bentar .... bentar...... ini mas Aris kan? aku ga salah orang kan ???". Laki-laki itu mencoba menjawab dengan rasa malu karena di melihat sekelilingnya mulai banyak yang memperhatikan perbincangan kita, "iya ini aku Aris, tapi bukan aku suaminya". Wanita itu bertanya lagi: "trus siapa yang menikah dengan dia?" . Sambil menahan ketawa dan malu karena beberapa orang di warung bakso itu mulai tersenyum-senyum mendengar kejadian itu, laki-laki itu menjawab: "ga tau.... bukan aku". "ah masak ....?" wanita itu langsung menyahut karena rasa tidak percayanya.
Sejenak perbincangan terdiam karena laki-laki itu teringat betapa sakitnya kejadian dulu. Sementara di tempat itu hampir semuanya adalah pasangan laki-laki dan wanitanya....... Hingga laki-laki itu berusaha menahan jawaban yang ingin dia lontarkan karena malu dan teringat rasa sakit hatinya. Dulu laki-laki itu menemukan tulisan yang bercerita tentang rencana wanitanya yang mau menikah dengan laki-laki lain, sedangkan jarak perjanjian laki-laki dan wanita itu untuk melamar tinggal 3 bulan lagi. Ya ..... wanita itu membuat sakit hati laki-laki itu dengan membuat perjanjian baru di atas perjanjian lama yang belum selesai batasnya.
Lalu laki-laki itu mencoba mendekat ke wanita itu dan berkata: "maaf .... bisa ga dikecilkan suaramu? kita diperhatikan orang banyak". Wanita itu menjawab: "lho emangnya kenapa? kan ga da yang kenal mas Aris". Lalu laki-laki menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi lalu dia duduk lagi di bangkunya. Setelah iu wanita itu minta maaf kepada laki-laki itu karena ketidaktahuannya mengenai apa yang terjadi antara laki-laki itu dan wanitanya dulu.
hingga batas sang waktu tak lagi berputar
Sampai denyut nadi berhenti
ku tetap slalu menanti seisi hatiku
Bait inilah yang sering dinyanyikan oleh seorang laki-laki ketika waktu luang. Dengan berbekal suara pas-pasan namun dengan penjiwaan yang luar biasa. Ya........ memang luar biasa penjiwaannya karena itulah pengalaman batinnya.
Kemarin lelaki itu bertemu dengan seorang wanita di sebuah warung bakso. Wanita itu bertanya: "Mas Aris?". Lalu laki-laki menjawab: "Iya ......... Siapa ya? maaf saya lupa ......". Lalu laki-laki itu berusaha mngingat dimanakah mereka bertemu dan berkenalan, atau lewat siapa dia berkenalan. Tiba-tiba laki-laki itu teringat .... "Eee.... kamu anak Jurusan Manajemen ya?". Wanita itu menjawab: "iya .......". Sambil menikmati bakso di hadapannya yang sudah hampir habis wanita itu bertanya pada laki-laki yang jarak mejanya lumayan jauh, sehingga butuh suara lebih kencang lagi untuk bertanya di banding duduk berdekatan, dia bertanya: "Bagaimana kabar "wanita"mu Mas?". Laki-laki itu menjawab: "wah dia di luar kota". Wanita itu balik bertanya: "Sekarang dah "isi" belum?". Mendengar pertanyaan itu, sejenak laki-laki itu bingung. Begitu juga dengan Faiz, sahabat di dekatnya.
Sementara ada beberapa pasang mata mulai memperhatikan percakapan mereka. Laki-laki itu mencoba menjawab pertanyaan yng sebenarnya sangat susah dia jawab di hadapan orang banyak. "Mana aku tahu dia "isi" atau ga...." jawab laki-laki itu sambil tersenyum karena malu diperhatikan beberapa orang. Dengan nada sedikit kaget dan suaranya tambah mengeras wanita itu bertanya: "Lho ini mas Aris bukan to.....? Mas Aris kan?". Laki-laki itu dan sahabatnya Faiz tersenyum-senyum, lalu laki-laki itu menjawab: "iya benar ini aku Aris. Emang kenapa? beda po?". "sekarang Mas jadi Ndut", jawab wanita itu. Dengan rasa penasaran yang bertambah wanita itu bertanya dengan suara yang semakin mengeras: "lalu kemarin yang menikah sama "wanita" itu siapa? Eh .... bentar .... bentar...... ini mas Aris kan? aku ga salah orang kan ???". Laki-laki itu mencoba menjawab dengan rasa malu karena di melihat sekelilingnya mulai banyak yang memperhatikan perbincangan kita, "iya ini aku Aris, tapi bukan aku suaminya". Wanita itu bertanya lagi: "trus siapa yang menikah dengan dia?" . Sambil menahan ketawa dan malu karena beberapa orang di warung bakso itu mulai tersenyum-senyum mendengar kejadian itu, laki-laki itu menjawab: "ga tau.... bukan aku". "ah masak ....?" wanita itu langsung menyahut karena rasa tidak percayanya.
Sejenak perbincangan terdiam karena laki-laki itu teringat betapa sakitnya kejadian dulu. Sementara di tempat itu hampir semuanya adalah pasangan laki-laki dan wanitanya....... Hingga laki-laki itu berusaha menahan jawaban yang ingin dia lontarkan karena malu dan teringat rasa sakit hatinya. Dulu laki-laki itu menemukan tulisan yang bercerita tentang rencana wanitanya yang mau menikah dengan laki-laki lain, sedangkan jarak perjanjian laki-laki dan wanita itu untuk melamar tinggal 3 bulan lagi. Ya ..... wanita itu membuat sakit hati laki-laki itu dengan membuat perjanjian baru di atas perjanjian lama yang belum selesai batasnya.
Lalu laki-laki itu mencoba mendekat ke wanita itu dan berkata: "maaf .... bisa ga dikecilkan suaramu? kita diperhatikan orang banyak". Wanita itu menjawab: "lho emangnya kenapa? kan ga da yang kenal mas Aris". Lalu laki-laki menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi lalu dia duduk lagi di bangkunya. Setelah iu wanita itu minta maaf kepada laki-laki itu karena ketidaktahuannya mengenai apa yang terjadi antara laki-laki itu dan wanitanya dulu.
Subscribe to:
Posts (Atom)