Tuesday, 25 August 2009

AMBISI

Jangan kau kejar pagi
Dia akan datang sendiri

Rindukan saja indahnya langit biru pagi hari
Yang selama ini kau cari-cari

Jangan takut malam......
bintang-bintang kan tuntun arah langkahmu menuju pagi lagi

PELITA

Matahari menerangiku
Bulan menerangiku
Bintang menerangiku
Lampu menerangiku

Terimakasih pelita-pelitaku
Kau temani aku dalam gelap
Mencari Nur yang sejati......
Nur Illahi......

ALHAMDULILLAH

Terima kasih Ya Allah atas rasa sakit yang Engkau berikan sehingga ku tak masuk ke dalam "lembah Hitam"...............

Wahai Maha Pengasih dan Maha Penyayang sungguh betapa besar nikmat yang Kau berikan........

Thursday, 6 August 2009

LINGKARAN HUTANG

Tulisan ini mungkin bisa mewakili beberapa atau banyak orang yang pernah merasakan hal serupa denganku....,,, termasuk sahabatku (yang tidak perlu disebut namanya)

Wahai teman aku mengerti kau butuh uang itu........... tapi aku tak bisa hidup tanpa uang itu......
Tiap pagi aku bangun dengan perasaan bersalah..... entah sampai kapan ku bisa lunasi hutang-hutangku............ Percayalah padaku....... aku tidak melupakan hutang itu....... berilah waktu untukku bergerak mencari uang...........

Ketahuilah temanku....... ketika semangat kerja yang tinggi ini datang, tiap hari selalu semangat untuk pergi kerja dan tiba-tiba kau menagih hutang (sedangkan aku belum dapat uangnya)......... rasa malu dan sangat bersalah menghampiriku...... hingga aku sakit dan itu butuh biaya.............

Belum jadi aku mengembalikan uangmu.... ku harus hutang ke orang lain untuk berobat ke rumah sakit karena beban pikiranku tentang hutangku padamu........... Padahal kerja keras udah ku lakukan dan uang belum ku dapat hingga akhir tahun.......

Temanku percayalah padaku.... aku tidak melalaikan hutangku padamu......... Meskipun di akhir tahun nanti ku tak dapat uang apa2 dari kerjaku karena untuk mengembalikan utangku padamu..... dan untuk hari ke depan, ku harus hutang kepada temen yang lain.... padahal hutangku kepada orang lain yang untuk berobat karena beban pikiran hutangku padamu belum bisa ku lunasi....... aku sudah harus berhutang ke orang lainnya lagi.......

Ya Allah..... sampai kapan lingkaran ini berputar terus.............. aku harus terus mencoba keluar dari lingkaran ini.............. Wahai teman...... berilah aku waktu untuk bergerak dan mengusahakan uang.......... kau tahu aku sering sakit karena pola makanku tak teratur.... karena aku tak ada uang pasti untuk makan hari ini........... kuusahakan untuk mengembalikan uangmu...... tapi ternyata dengan aku terlalu mengirit dan di tambah beban pikiran itu..... malah ku harus keluar uang lebih banyak dan bahkan berhutang ke orang lain karena aku sakit.....

wahai teman.... mungkin kamu mengira aku memboroskan uang dengan menulis ini..... tidak teman..... karena aku menulis ini.... gratis dari suatu tempat yang mungkin kau tahu.... Aku menulis ini karena aku bingung bercerita kepada siapa lagi....... mungkin mereka hanya tahu jika dengan berhutang saja sudah salah........... kebanyakan mereka yang berkata seperti itu adalah orang tidak pernah pernah merasakan hidup yang kurang (bukan pas2an) tau bahkan dia orang kaya...... Mereka tidak merasakan bagaimana hidup dengan keluarga yang........ (rasanya tidak patut dibicarakan di sini, karena mungkin kalian sudah tau yang ku maksud).........

Wahai saudaraku kaum tidak mampu...... sebisa mungkin kalian jangan berhutang.... karena akan sangat susah untuk keluar dari lingkarannya........ jika terpaksa kalian harus berhutang.... berhutanglah kepada orang yang bisa mempercayaimu sehingga dia tidak mengejar2mu karena dia percaya bahwa kamu pasti akan mengembalikannya sehingga kamu tidak terbebani dengan hutang itu tetapi bisa terus semangat kerja untuk mengembalikan hutang itu........

Wahai saudaraku sang pemilik uang.......... sekali lagi ku katakan..... mungkin kau butuh uang itu.... tapi kami tak bisa hidup tanpa uang itu...... jadi berilah kami waktu....... berilah kami kelonggaran waktu..... bantulah kami keluar dari rasa malu dan bersalah karena hutang kami sehingga kami bisa bekerja dengan lebih maksimal untuk mengembalikan hutang kami padamu.......

Monday, 23 February 2009

CUWIL DYNASTY

Dasar keparat ...... sudahkah puas dirimu ......
tertawa di atas penderitaan orang lain ...
senangkan ..... ??? senangkan .......? ha ... ha... ayo jawab .......
Ambil tuh smua kepuasanmu, ambil tuh semua ketakutan mu ....

Jangan katakan aku kelainan jika kalian tega menghancurkan kehidupan orang kelainan .......
Siapakah yang lebih kejam di antara kita ..............

memang orang kecil sangat susah untuk menang ...... tapi bukan berarti untuk diinjak-injak .....

SEMBUNYILAH DI ATAS KURSI EMPUK KALIAN
SEMBUNYILAH DIKOLONG KEBAHAGIAAN
SEMBUNYILAH DARI RASA TAKUT

KAMILAH YANG KUAT
KAMILAH YANG SANGGUP MENOPANG BEBAN
KAMILAH YANG MAMPU MENERIMA RASA SAKIT

Rasa sakit tidak cocok untuk orang penakut seperti kalian

Kalian berbungkus putih tapi tetap saja kalian punya jiwa MONSTER

Menghancurkan tanpa pernah merasa bersalah kemudian langsung bersarang di tempat lain

Membuat kerajaan baru .........

SALAH SANGKA

Aku kan tetap menunggu
hingga batas sang waktu tak lagi berputar
Sampai denyut nadi berhenti
ku tetap slalu menanti seisi hatiku


Bait inilah yang sering dinyanyikan oleh seorang laki-laki ketika waktu luang. Dengan berbekal suara pas-pasan namun dengan penjiwaan yang luar biasa. Ya........ memang luar biasa penjiwaannya karena itulah pengalaman batinnya.

Kemarin lelaki itu bertemu dengan seorang wanita di sebuah warung bakso. Wanita itu bertanya: "Mas Aris?". Lalu laki-laki menjawab: "Iya ......... Siapa ya? maaf saya lupa ......". Lalu laki-laki itu berusaha mngingat dimanakah mereka bertemu dan berkenalan, atau lewat siapa dia berkenalan. Tiba-tiba laki-laki itu teringat .... "Eee.... kamu anak Jurusan Manajemen ya?". Wanita itu menjawab: "iya .......". Sambil menikmati bakso di hadapannya yang sudah hampir habis wanita itu bertanya pada laki-laki yang jarak mejanya lumayan jauh, sehingga butuh suara lebih kencang lagi untuk bertanya di banding duduk berdekatan, dia bertanya: "Bagaimana kabar "wanita"mu Mas?". Laki-laki itu menjawab: "wah dia di luar kota". Wanita itu balik bertanya: "Sekarang dah "isi" belum?". Mendengar pertanyaan itu, sejenak laki-laki itu bingung. Begitu juga dengan Faiz, sahabat di dekatnya.

Sementara ada beberapa pasang mata mulai memperhatikan percakapan mereka. Laki-laki itu mencoba menjawab pertanyaan yng sebenarnya sangat susah dia jawab di hadapan orang banyak. "Mana aku tahu dia "isi" atau ga...." jawab laki-laki itu sambil tersenyum karena malu diperhatikan beberapa orang. Dengan nada sedikit kaget dan suaranya tambah mengeras wanita itu bertanya: "Lho ini mas Aris bukan to.....? Mas Aris kan?". Laki-laki itu dan sahabatnya Faiz tersenyum-senyum, lalu laki-laki itu menjawab: "iya benar ini aku Aris. Emang kenapa? beda po?". "sekarang Mas jadi Ndut", jawab wanita itu. Dengan rasa penasaran yang bertambah wanita itu bertanya dengan suara yang semakin mengeras: "lalu kemarin yang menikah sama "wanita" itu siapa? Eh .... bentar .... bentar...... ini mas Aris kan? aku ga salah orang kan ???". Laki-laki itu mencoba menjawab dengan rasa malu karena di melihat sekelilingnya mulai banyak yang memperhatikan perbincangan kita, "iya ini aku Aris, tapi bukan aku suaminya". Wanita itu bertanya lagi: "trus siapa yang menikah dengan dia?" . Sambil menahan ketawa dan malu karena beberapa orang di warung bakso itu mulai tersenyum-senyum mendengar kejadian itu, laki-laki itu menjawab: "ga tau.... bukan aku". "ah masak ....?" wanita itu langsung menyahut karena rasa tidak percayanya.

Sejenak perbincangan terdiam karena laki-laki itu teringat betapa sakitnya kejadian dulu. Sementara di tempat itu hampir semuanya adalah pasangan laki-laki dan wanitanya....... Hingga laki-laki itu berusaha menahan jawaban yang ingin dia lontarkan karena malu dan teringat rasa sakit hatinya. Dulu laki-laki itu menemukan tulisan yang bercerita tentang rencana wanitanya yang mau menikah dengan laki-laki lain, sedangkan jarak perjanjian laki-laki dan wanita itu untuk melamar tinggal 3 bulan lagi. Ya ..... wanita itu membuat sakit hati laki-laki itu dengan membuat perjanjian baru di atas perjanjian lama yang belum selesai batasnya.

Lalu laki-laki itu mencoba mendekat ke wanita itu dan berkata: "maaf .... bisa ga dikecilkan suaramu? kita diperhatikan orang banyak". Wanita itu menjawab: "lho emangnya kenapa? kan ga da yang kenal mas Aris". Lalu laki-laki menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi lalu dia duduk lagi di bangkunya. Setelah iu wanita itu minta maaf kepada laki-laki itu karena ketidaktahuannya mengenai apa yang terjadi antara laki-laki itu dan wanitanya dulu.