Hampir tiga tahun yang lalu aku pergi ke sebuah pulau yang sangat jauh dari asalku, yaitu Nias. Lewat perjalanan panjang ini aku semakin mengerti bahwa betapa pentingnya sebuah pertanyaan Mengapa? Pertanyaan ini yang dapat membawa aku survive di sana. Bayangkan saja betapa terpelosoknya desa yang aku tinggali, hingga ada satu sekolahan yang hanya memiliki satu pegawai, dia menjadi kepala sekolah, guru kelas Satu hingga kelas Enam SD, dengan bangunan yang mirip kandang sapi di Jawa. Toh itu pun harus ditempuh untuk jarak yang jauh bagi seorang anak SD. Belum lagi mereka harus bertarung dengan jalan yang tidak mudah untuk orang dewasa, apalagi untuk anak-anak.
Lalu muncul pertanyaan di benakku, mengapa hal ini bisa terjadi? Setelah selesai Program yang dilaksanakan oleh pemerintah ini, aku baru tahu bahwa pejabat pemerintah hampir semuanya banyak omong tanpa mau melihat jauh lebih ke dalam sedangkan kmi hnya dijadikan umpan. Hingga aku pernah dimaki-maki oleh seorang mantan petinggi di suatu departemen di Nias, dia mengatkan: "apa saja yang kalian lakukan, apakah hanya akan bertanya dan meninggalkan kami begitu saja?". itu pertanyan yang cukup memukul bagiku, karena aku tidak tahu bagaimana harus menjawabnya. Tiba-tiba istrinya yang menjawab, Pak mereka hanya orang bawahan, mereka tidak tahu apakah kegiatan itu akan benar-benar dilaksanakan. Bapak itu rupanya geram dengan janji-janji dari pemerintah pusat tentang pembangunan aspek pendidikan. Kita memang sedikit menjanjikan program dari pemerintah. Aku baru tahu, ternyata kita di Nias hanya dijadikan "kambing" kurban saja. Karena setelah itu aku dengar bahwa desa yang dulu kami huni tidak di sentuh sama sekali. Lalu apa fungsinya kami kesana kalo hanya sekedar tahu tentang kondisi sana. Itu tidak akn mendatangkan apa-apa bagi mereka. Mungkin akan berarti bagi kami tetapi menjadi tidak berarti bagi penduduk Nias.
Padahal pulau ini sangat indah apalagi bila sore hari. Tetapi setahu saya tidak satupun pengusaha besar menanamkan modal di sana. Apakah karena sering terjadi gempa atau karena letak pulau yang begitu jauh dari pusat peradaban Nasional ini. Banyak kisah yang ga akan cukup aku tulikan di sini. Aku hanya dapat mengatakan bahwa aku belajar dari minimnya fasilitas yang ada, tanpa sinyal sinyal radio, listrik yang redup-redup, tanpa ada panggung hiburan. Dari situ aku benar-benar dapat menghargai arti keluarga dan orang-orang yang kucintai. Aku benar-benar baru merasakan bagaimana bila kita hidup di daerah yang asing tanpa saudara dan minimnya fasilitas. Kehidupan yang cukup menjemukan bagi orng yang terbiasa dengan fasilitas lengkap. Bahkan kita harus menangkap air hujan dengan mantol(jas hujan) agar dapat memasak air.
Padahal pulau ini sangat indah apalagi bila sore hari. Tetapi setahu saya tidak satupun pengusaha besar menanamkan modal di sana. Apakah karena sering terjadi gempa atau karena letak pulau yang begitu jauh dari pusat peradaban Nasional ini. Banyak kisah yang ga akan cukup aku tulikan di sini. Aku hanya dapat mengatakan bahwa aku belajar dari minimnya fasilitas yang ada, tanpa sinyal sinyal radio, listrik yang redup-redup, tanpa ada panggung hiburan. Dari situ aku benar-benar dapat menghargai arti keluarga dan orang-orang yang kucintai. Aku benar-benar baru merasakan bagaimana bila kita hidup di daerah yang asing tanpa saudara dan minimnya fasilitas. Kehidupan yang cukup menjemukan bagi orng yang terbiasa dengan fasilitas lengkap. Bahkan kita harus menangkap air hujan dengan mantol(jas hujan) agar dapat memasak air.

No comments:
Post a Comment