Sunday, 16 March 2008

DI BALIK TSUNAMI

Inilah foto tsunami. Ada hikmah di balik tsunami dan gempa bumi. Ketika saya ditugaskan ke Nias, ada banyak cerita yang mengharukan. Tidak hanya lantaran karena banyaknya korban yang berjatuhan tetapi karena pertikaian antar orang atau sesama keluarga jadi hilang, dengan kata lain semua jadi akur. Sebagian besar dari mereka menginginkan ketika saat-saat terakhir hidup mereka, mereka ingin berdamai dengan orang-orang yang mereka kasihi dan ketika mereka meninggal, mereka ingin memberikan kenangan yang terindah untuk terakhir kalinya. Mereka ingin tetap hidup di dalam hati orang-orang yang di kasihi.

Saat seperti itulah, pikiran untuk membalas dendam, merampok membunuh dan berbuat jahat jadi drastis menurun. Hingga ada yang berkata, "Kalo saya membalas dendam toh akhirnya saya juga akan mati. Buat apa saya lakukan itu .......? Tak saya balas pun kita akan mati bersama". Ada juga suami isteri yang dulu cerai jadi baikan gara-gara ga tenang memikirkan bagaimana keadaan pasangannya. Bagaimana kalo mereka mati sekarang, apakah saya masih bisa memberikan yang terbaik bagi mantan suami saya, begitu juga sang suami. Begitu mengharukan............. Sayang anak-anak posko tidak berani berjalan-jalan ke dusun-dusun. Hanya aku sendiri mengais cerita-cerita di balik gempa. Ada juga seorang anak yang telah lama pergi dari rumah, pulang untuk mengabdikan sisa hidupnya pada orang tuanya dengan luka-luka terkena gempa. Ada juga kakak adik yang akhirnya bisa tinggal di atas satu tanah setelah lama mereka bersengketa. Buat apa tanah di sengketakan kalo tanah ini akan tenggelam. Banyak penduduk yang beranggapan kalo terjadi gempa besar lagi maka Nias akan tenggelam. Ada pula yang berkata: "buat apa harta ini saya simpan kalo nanti terkubur juga bersama diri saya. Tidak akan berarti".

Pernahkah kamu merasa tidak berguna: maka kamu akan berguna bagi orang lain ketika orang lain takut mati, takut gagal, takut ditinggalkan (mati) sendiri. Itulah salah satu kata seorang tetua di sana dengan bahasa campuran Nias dan Bahasa Indonesia. Wah begitu tidak berartinya semua perasaan kita (Benci, marah, dendam, iri serakah dan sebagainya), harta kita ketika kita dalam kondisi sehat tetapi maut membayangi. Siapakah yang akan merasa sangat kehilangan kalo tidak orang-orang yang mencintai dan menyayangi kita, ketika kita tidak ada kabar di tengah bencana. Wah, sejak saat itu aku jadi mikir, apa yang bisa aku lakukan yang terbaik bagi orang-orang yang ku sayangi jika saat ini aku dan orang-orang yang kucintai terpisah untuk selam-lamanya. Aku harus bisa....... melawan kemalasnku sendiri. Sangat susah............... tapi aku harus mencobanya karena siapa tahu ini untuk yang terakhir kalinya yang bisa aku lakukan untuk orang-orang yang kucintai. Ibuku.......... meskipun anakmu ini bukan sebaik putera nabi.... aku ingin di dalam tutur kataku tidak menyakiti ibu dan bisa menghibur Ibu, atau bahkan siapapun orang-orang yang kucintai.......

Banyak cerita yang tak pernah aku bukukan, karena begitu banyak cerita yang sangat berarti bagiku. Betapa berartinya pertemuan ketika semua fasilitas komunikasi dan transportasi hancur terkena bencana. Inilah saatnya manusia menyeimbangkan silaturahmi baik lewat teknologi dan pertemuan langsung." Teman-teman impianku" ke mana kalian pergi dan kemana aku harus datang. Suaramu tak terdengar lagi.

Itulah beberapa kisah dan sekelumit peristiwa yang dapat kita petik hikmah di balik bencana. Bahwa anugerah tidak hanya sesuatu yang baik, bahkan sesuatu yang kita anggap buruk pun bisa jadi itu adalah anugerah dari Allah. Tergantung bagaimana kita memposisikannya> Sakit, miskin bukan petaka, itu adalah anugerah dari Allah karena Allah selalu mengingatkan kepada kita, sepandai apapun kita, sebaik apapun kita, kita tetaplah manusia. bukan Tuhan. Karena berdasarkan sejarah, Allah lebih tidak menyukai kesombongan di banding nafsu. Iblis di laknat Allah hingga akhir jaman karena kesombongannya yang merasa paling baik sendiri. Sedangkan Adam diturunkan dari surga dan diampuni karena hawa nafsunya.

No comments: